Yuk, Kita Beli Surga!

In Religi
Advertisements

Dewasa ini tak sedikit orang yang memandang segala sesuatunya dengan uang. Bahkan jika salah langkah, harta dan jabatan telah membuat matahati manusia tertutup dengan kabut tebal bernama keserakahan.

Banyak orang yang berbondong-bondong membeli pakaian dengan harga puluhan juta, mereka yang rela mengeluarkan isi dompetnya untuk membeli kendaraan dengan harga selangit. Tetangga membeli baju baru, saat itu juga Anda pergi ke toko online untuk membelinya yang lebih mahal. Sedikit-demi sedikit hati kita dipenuhi duri-duri kesenangan atas hal duniawi.

Namun, pernahkah Anda terpikirkan untuk membeli Surga?

Tempat yang paling mulia itu ternyata dapat dibeli. Bukan dengan harta duniai yang Anda dapatkan mati-matian, atau bukan pula dengan jabatan yang Anda raih dengan keringat mengucur deras. Surga hanya dapat dibeli dengan amalan Surganya.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka, dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)

Yuk, kita beli surga dengan cara-cara berikut ini:

1. Keimanan

Sebanyak apapun masjid dan pondok pesantren yang dibangun dengan harta milik kita, tak akan bisa membeli surga jika tak disertai dengan keimanan.

Iman merupakan password untuk masuk surga:

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang BERIMAN dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (Q.S. Al Baqarah: 25)

2. Kepastian halalnya harta yang diperoleh

Surga memang bisa dibeli dengan harta kita melalui sedekah, wakaf, dan sebagainya, namun pastikanlah kebersihan sumber harta tersebut!

Hai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” (HR. Bukhari Muslim)

Advertisements

Apakah harta yang diperoleh dengan cara bathil, entah itu melakukan korupsi, mengembangbiakkan harta secara riba, atau melacurkan diri, bisa membeli surga Allah? Amat malang orang yang berpikir demikian!

“Dan memang, harta itu, hisabnya (pertanggung jawaban di hadapan Allah) dua hal; dari mana (dengan cara apa) diperoleh, dan untuk apa dipergunakan.” (HR. Tirmidzi dari Abu Barzah R.A.)

3. Tidak melakukan dosa besar yang tak terampuni

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.” (HR. Thabrani)

Adakah kita menduakan Allah dengan makhlukNya? Misalnya mencintai pasangan hidup dan anak-anak lebih daripada cinta pada Allah? Maka sesungguhnya kita telah berbuat syirik meski tidak disadari.

Lalu, adakah dalam hati kita secuil perasaan aman dari murka Allah? Merasa harta yang kita miliki dapat melindungi diri kita dari marabahaya. Dengan demikian, kita telah melakukan kekeliruan yang besar.

Namun demikian, penting bagi setiap muslim untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, tidak putus harapan dari ampunan Allah. Sebesar apapun dosa kita, ampunan Allah jauh lebih besar dari itu semua.

4. Tidak berbuat zalim pada manusia

Sesungguhnya dosa besar itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Q.S. Asy Syura: 42)

Bagi para calon pembeli surga, jauhkanlah diri dari perbuatan zalim kepada sesama manusia! Sangat mungkin transaksi kita membeli surga gagal karena ada satu-dua manusia yang tidak ridho pada kesalahan yang pernah kita lakukan pada mereka.

Dari syarat-syarat tersebut terlihat, bahwa setiap orang bisa membeli Surga. Tinggal bagaimana ia memulai menabung dan mengumpulkan kepingan demi kepingannya menjadi sebuah kunci yang membuka gembok pintu surga itu. []

 

Sumber: Tabungwakaf

Advertisements

You may also read!

10 Perbuatan yang Sangat Dibenci Allah SWT

Selain dosa besar, mempersekutukan Allah juga termasuk ke dalam perbuatan yang paling Allah benci.

Read More...

Rahasia Wortel Untuk Hilangkan Minyak Diwajah

Rahasia Wortel Untuk Hilangkan Minyak Diwajah

Read More...

Mengharukan, Pasangan Ini Tetap Langsungkan Akad Nikah dalam Keadaan Banjir

Selanjutnya Hendra menceritakan, dalam akadnya, kedua mempelai tetap menggunakan pakaian seperti layaknya orang menikah.

Read More...

Mobile Sliding Menu

satumedia