Home / Inspirasi / Kayuh Sepeda ‘Tua’ Sejauh 30 Kilometer, Tak Surutkan Prestasi Gadis Ini
Foto: Kemenag

Kayuh Sepeda ‘Tua’ Sejauh 30 Kilometer, Tak Surutkan Prestasi Gadis Ini

Dialah Okti Sulistian Sari, seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta 1 yang saat ini duduk di kelas X IPS 2. Jauhnya jarak yang harus ditempuh tak menyurutkan niat Okti untuk tetap pergi sekolah setiap harinya. .

Okti sendiri tinggal di Desa Magelang, Jawa Tengah di rumah neneknya. Hal itu ia lakukan agar bisa mengirit biaya kostan.

Setiap pagi ia harus mengayuh sepeda tuanya sejauh 15 Kilometer untuk bisa sampai di sekolah. Lokasi tempat tinggalnya yang terbilang jauh tersebut tak membuat Okti gentar dalam meraih pendidikannya. Jika dihitung, setiap harinya Okti harus mengayuh sepedah sejauh 30 Kilometer pulang pergi.

“Tiap hari saya menempuh waktu 90 menit untuk perjalanan pergi-pulang,” kata Okti dikutip dari kemenag.go.id Selasa (10/1/2017).

Sebelumnya Okti pernah tinggal di Pesantren yang jaraknya lebih dekat ke sekolah. Namun karena biasa yang tidak mencukupi, Okti terpaksa keluar dan memilih tinggal di rumah neneknya.

“Orangtua tidak punya biaya. Akhirnya saya keluar dan tinggal bersama nenek sampai sekarang,” tambah Okti.

Namun jarak dan biaya tak mengahalangi Okti untuk tetap berprestasi. Gadis pengayuh sepeda itu dikenal dengan segudang prestasinya yang membanggakan.

Salah satu prestasi yang diraih Okti yaitu Juara 1 Kejurda Karate tingkat DIY dan Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat DIY di Universitas Islam Indonesia (UII).

Sebelumnya saat Okti duduk di bangku MTsN Bantul Kota, ia memboyong banyak prestasi sebagai Juara 3 Pidato Bahasa Inggris tingkat DIY, Juara 3 Kejurda Karate tingkat DIY, Juara 2 Pidato Bahasa Arab tingkat DIY, Juara 2 LKTI Tingkat DIY, dan Juara Harapan 1 Kejurda Karate Regional Jawa-Bali.

Mental juara Okti memang pantas diacungi jempol. Disela-sela keterbatasan dan kekurangannya Okti mampu mendobraknya dengan prestasi yang membanggakan.

Ayah Okti hanyalah seorang buruh bangunan dan sang ibu membantu perekonomian keluarga dengan berjualan di warung. Namun prestasi yang ditunjukan Okti membuktikan bahwa setiap orang mampu berprestasi dalam kondisi apapun. Bagaimana ia mampu membuka gembok yang menghalanginya dengan kunci kesuksesannya sendiri.

“Waktu masih MTs, bapak kerja jadi buruh bangunan dan ibu buka warung,” tutup Okti. []

 

 

Cek Juga

10 Tahun Sudah, Guru Ini Rela Mendayung Perahu demi Antar Jemput Murid-muridnya

Tak hanya menyediakan perahu, Li juga menyiapkan jaket pelampung demi keselamatan anak-anak muridnya.