Belum Juga Menikah, Jangan Sekali-kali Kita Cemoohnya

In Inspirasi
Advertisements

Dikutip dari Fans Page Asa Mulchias

Sebagian orang nampaknya memang kurang tata krama. Mungkin kurang akal atau kurang perasa. Lidahnya asal bergoyang, begitu mudah merangkai sangka. Selalu, muslim-muslimah lajang dihujaninya tuduhan. Bermacam-macam.

“Usaha, dong!”

Atau,

“Kalau terlalu banyak milih, kamu nggak bakal laku!”

Atau,

“Sebenarnya mau menikah nggak, sih?”

Dan beragam versi lainnya.

Astaghfirullah. Jahat sekali. Padahal Rasulullah Saw. berkata,

“Orang Islam itu adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya” (H.r. Bukhari).

Sedangkan Allah juga berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (Q.s. al-Hujurat: 12).

Dengarkan ini baik-baik:

Jika seseorang tak kunjung menikah, sedang ia memiliki pacar, saya lebih sering anjurkan: percepatlah. Jangan terus ditunda. Dengan menikah, interaksi cinta akan dicatat ke dalam ‘Illiyin. Bukan lagi ke dalam sijjin.

Sedangkan bagi yang belum… ah, kita tidak tahu. Apakah ia sudah berusaha atau belum. Apakah ia terlalu menyulitkan diri atau bukan soal itu sama sekali. Kalau kita tidak paham apa yang sebenarnya terjadi, singkirkan asumsi. Bersihkan hati.

Advertisements

Siapa tahu, di antara mereka, ada yang telah habiskan malam-malamnya dengan tahajud. Tenggelam dalam doa-doa. Gigih mencari, ke sana kemari. Siapa tahu, di antara mereka, sudah minta bantuan orang-orang ‘alim dan shalih. Merekomendasikan calon. Memfasilitasi dan konsultasi. Tapi, apa mau dikata? Belum ada satu pun yang mengiyakan. Atau, tiba-tiba sesuatu membatalkan rencana di tengah jalan.

Kenapa. Kenapa orang-orang itu berlagak seperti juara? Apa karena telah genap diennya, mereka bebas melempar kata? Apa karena telah mengantongi buku KUA, mereka boleh menyakiti siapa pun yang belum menikah?

Garisbawahi:

Menikah itu bukan piala. Jadi, tak usah dibangga-bangga untuk menghina. Untuk merendahkan muslim lainnya. Sebab, mereka bisa walimah juga karena izin Allahu Ta’ala. Bukan murni lantaran ikhtiar saja. Kalau mereka mau bantu, bantu yang baik. Jangan pasang wajah menyebalkan, dilengkapi cibir-cibir yang tak bisa pertanggungjawabkan. Pernikahan itu persoalan sensitif. Bagi laki-laki, bisa dianggap harga diri. Bagi perempuan, itu terkait citra di masyarakat. Orang yang belum menikah bukan selalu berarti tak berusaha. Bukan selalu berarti tidak mau. Tapi, Allah memang belum menghendaki.

Selalu ingat:

Memotivasi dan menzalimi itu dua amal yang berbeda. Daripada menambah beban, bantu doa dan berhati-hatilah dalam berujar. Itupun kalau merasa masih saudara seagama. Jika tidak, lakukan saja apa yang kalian suka. Untuk muslim dan muslimah “jomblo karena Allah” di luar sana. Jangan panik gara-gara kelakuan beberapa manusia. Luruskan niat kalian. Luruskan niat kalian.

Camkan ke palung sanubari:

Kalian akan menikah, lillahi saja. Bukan untuk manusia yang faqir adabnya. Mereka tak pantas. Sungguh tak pantas jadi niatmu. Bukan mereka yang memberimu pahala. Bukan mereka juga yang kau pantas cari ridha-nya. ()

Advertisements

You may also read!

10 Perbuatan yang Sangat Dibenci Allah SWT

Selain dosa besar, mempersekutukan Allah juga termasuk ke dalam perbuatan yang paling Allah benci.

Read More...

Rahasia Wortel Untuk Hilangkan Minyak Diwajah

Rahasia Wortel Untuk Hilangkan Minyak Diwajah

Read More...

Mengharukan, Pasangan Ini Tetap Langsungkan Akad Nikah dalam Keadaan Banjir

Selanjutnya Hendra menceritakan, dalam akadnya, kedua mempelai tetap menggunakan pakaian seperti layaknya orang menikah.

Read More...

Mobile Sliding Menu

satumedia