Friday , December 14 2018
below header
Home / Inspirasi / Sabar Nak, Nanti Ayah Belikan
anak berkata kasar, tips didik anak
Foto: safebee.com

Sabar Nak, Nanti Ayah Belikan

Seorang anak mempunyai ayah seorang tentara. Ketika si anak duduk di bangku sekolah, dia ingin sekali dibelikan mainan seperti kawan-kawan seusianya. Tapi keinginannya tidak pernah terpenuhi. Setiap kali si anak meminta mainan Sang ayah hanya berkata, “Sabar ya nak, nanti ayah belikan, berdoa saja ya kepada Allah SWT.”

Si anak sudah berkali-kali mendengar kalimat itu dari ayahnya. Ia bingung apakah itu janji yang akan ditepati beliau, atau hanya sebuah nasihat.

Si anak pun yakin kalau ayahnya masih punya uang karena selama ini beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun. Lantas si anak berpikir, “Mengapa oh mengapa, ayah tak membelikan mainan untukku?”

Si anak mengerti bahwa untuk menagih janji ayahnya itu sangat sulit, karena terhalang oleh jadwal ayahnya yang sering bertugas dan berbulan-bulan meninggalkan rumah. Sering kali sang ayah berada di hutan berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan.

Hanya ibu si anak yang akhirnya memberikan pengalihan pikiran terhadap apa yang diinginkannya. Mendengar nasihat ibu, Sang anak akhirnya menyadari betapa ayahnya selalu berusaha untuk memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Si anak mulai berfikir dan memohon kepada Allah agar ayahnya bisa kembali ke rumah dengan selamat dan sehat walafiat.

Sering kali si anak melihat ayahnya membawa ransel hijau penuh dengan segala perlengkapan, satu tas coklat seperti sangsak tinju. Si anak sangat penasaran karena tak tahu apa isinya dan kilatan senjata laras panjang seolah menghapus pikirannya untuk mendapatkan mainan seperti teman-teman seusianya.

Pada suatu hari, si anak melihat ayahnya duduk tenang dikursi depan rumahnya. Terbesit dalam pikirannya, keinginan untuk membeli bola. Maka datanglah anak itu kepada ayahnya dan mengutarakan maksudnya. Tapi, lagi lagi ayahnya hanya tersenyum dan mengelus kepalanya sambil mengucap kata yang sama, “Sabar ya nak dan Berdoalah!”

Tak sampai 7 hari si anak mengutarakan permintaannya. Si ayah kembali pergi dari rumah dengan ransel hijau, tas coklat dan senjata laras panjangnya. Si anak hanya bisa berdoa agar ayahnya kembali ke rumah dengan selamat dan sehat walafiat.

Keinginan demi keinginan akhirnya harus pergi seiring rutinitas kepergian ayahnya yang tak menentu. Keinginan akan semua itu telah berubah menjadi sebentuk harapan agar Sang ayah pulang dengan selamat, membawa serta kembali napas dalam tubuhnya.

Suatu hari di sore yang terang, setelah satu hari Sang ayah kembali dari tugas, Sang Ayah bertanya kepada si anak apakah dia sudah berdoa kepada Allah agar mendapatkan apa yang ia inginkan. Si anak cuma menggelengkan kepala dan berkata, “Aku hanya berdoa agar ayah kembali ke rumah dengan selamat.”

Tampak mata Si ayah sore itu berkaca kaca dan ia menatap si anak begitu tajamnya. Sore itu juga Sang ayah mengajak anaknya ke toko grosir untuk mendapatkan beberapa barang seperti jamu,obat-obatan, batu battery, odol, sabun, minyak angin dan banyak macam lainnya hingga penuh tas itu dengan berbagai macam barang yang dibelinya.

“Untuk apa, ayah?” Si anak bertanya.

Dan ia menjawab dengan sigap dan penuh senyum. “Untuk persiapan kalau ayah berangkat tugas lagi, ayah akan jual di tempat tugas dan uangnya bisa membeli mainan yang kamu dan adikmu minta, selebihnya buat ibu!” jawab ayah.

Si anak baru menyadari kalau selama ini yang ada di tas coklat mirip sangsak tinju yang selalu ayah gendong ketika berangkat tugas bersama ransel hijau serta senjatanya adalah bagian dari nalurinya untuk memberikan tambahan bagi kelurganya untuk sedikit rezeki selain dari gaji ayah yang tak seberapa. Konsumen ayah adalah kawan-kawannya sendiri yang tak mungkin mendapatkan warung di tengah hutan untuk memperoleh barang-barang yang sepele namun sangat berguna di sana.

Tak lama ketika tas coklat telah penuh, sang ayah menggamit lengan anaknya menuju sebuah toko dan semua mainan yang waktu itu di inginkannya.

Sang ayah dengan tubuh yang sebetulnya mulai menua menggendong tas coklat mirip sangsak di bahu kanannya sambil membayar semua mainan dengan tumpukan uang lusuh merah dan biru. Uang dari para tentara yang terendam kadang di kubangan lumpur, pematang sawah serta tampias hujan dalam tenda-tenda. []

SUMBER: INSPIRADATA

About madam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bottom